GURINDAM RATOK KARISIEK
Kok indak dek hujan panjang
Indak ka tumbuah pisang nangko
Lah panek rasonyo daun kambang
Badan haram tapakai tido
Sio sio badan di batang
Dek urang buah nan nyo arokkan
Jantuang batuneh putiak datang
Pucuaklah tibo manggantikan
Kinilah masiek di palapah
Tajuntai layuah mamaluik batang
Oii rang ladang toloang lah rambah
Suruak baa badan ka lubang
Pado manyarok dalam parak
Bialah nak luluah jadi abu
Ta pakai raso ka indak
Elok manjadi umpan tungku
Maso dahulu kok di kaji
Badan masih urang pakai
Kabungkuih sabuak bungkuih kopi
Ka aleh kipang tangah balai
Kini saketek haram paguno
Urang nan indak acuah lai
Sajak plastik lah masuak toko
Badan hiduik umpamo mati
Malang bana nasib karisiek
Lah tuo hiduik marangeh
Dulu laweh kinilah cabiek
Jaso di badan hilang laleh
Dek ulah sayang ka batang
Dek ibo badan jo jantuang
Kini hiduik takulai panjang
Lah lapuak mati tagantuang……..
Tampilkan postingan dengan label Curito Lamo... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curito Lamo... Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juli 2009
Kamis, 07 Mei 2009
Abunawas
ABUNAWAS DAN MASJID TAQWA
Oleh:
Wisran Hadi
Raja yang satu itu memang aneh. Baginda selalu ingin menambah koleksi
bangunan-bangunan megah di sekitar istananya. Akan tetapi sampai sekarang, di depan
istana, masih saja berdiri sebuah bangunan yang selalu ramai dikunjungi orang untuk
beribadah. Oleh karena sang raja tidak mau dituduh sebagai perampok bangunan milik
masyarakatnya, maka tugas untuk mencaplok bangunan itu diserahkan kepada
Abunawas.
Abunawas dengan beribu akal bulusnya menancapkan sebuah paku besar di
dinding luar bangunan. Mula-mula masyarakat menganggap hal itu sebagai kegilaan
Abunawas saja. Namun dari hari ke hari Abunawas terus menggantungkan segala yang
busuk-busuk pada paku besar itu. Orang-orang yang beribadah dalam bangunan tua
kelabakan karena diserang aroma busuk. Ibadat mereka menjadi tidak khusyuk, namun
orang-orang tidak berani membuangnya karena paku besar milik Abunawas itu adalah
atas persetujuan sang raja.
Orang-orang akhirnya tidak mau mengunjungi bangunan itu lagi, tidak mau lagi
beribadat di sana. Berkali-kali orang mengadukan hal itu kepada sang raja, dan sang raja
dengan sopannya mengatakan semua itu adalah ulah Abunawas. Karena tidak tahan oleh
bau busuk, bangunan itu akhirnya dijual saja kepada kerajaan dengan harga yang sangat
murah pula. Maksud sang raja tercapai dan beberapa bulan kemudian bangunan itu
diruntuhkan dan di atasnya didirikan sebuah bangunan mewah yang baru. Bukan lagi
untuk tempat beribadat tetapi untuk tempat mengumbar syahwat.
Masjid Taqwa yang terletak di pusat kota Padang adalah bangunan yang selalu
ramai dikunjungi untuk beribadat. Didirikan oleh masyarakat Kampuang Jao dan
sekitarnya sejak berpuluh tahun lampau. Semakin hari, kompleks sekitar bangunan itu
semakin lama semakin ramai. Namun, sejak beberapa tahun belakangan, banyak orang
mengeluh karena bisingnya klakson angkot karena semua angkot bermuara di depan
masjid. Ditambah lagi kebisingan itu oleh suara hiruk pikuk mereka yang lalu lalang,
susahnya memarkir kendaraan, keamanan dan berbagai kesulitan lainnya.
Berkali-kali pengurus masjid memohon kepada Pemko agar ikut membantu
memberi ketenangan kepada orang-orang yang beribadah di sana. Mungkin Pemko punya
pendapat lain, yang salah itu adalah, kenapa masjid didirikan di pusat kota. Risikonya
tentulah harus menerima kebisingan kota dengan rela. Namun Pemko kemudian
bermurah hati juga dengan meletakkan papan larangan di depan masjid, agar semua
orang ikut membantu ketenangan orang yang menjalankan ibadah. Cuma papan larangan,
tak ada sangsi, tak ada pengawasan.
Berkali-kali surat kabar ini menyuarakan agar Pemko memindahkan tempat
angkot menurunkan dan menaikkan penumpang itu ke tempat lain, agar orang-orang yang
beribadah di masjid itu benar-benar mendapat ketenangan. Tapi, seumpama paku besar
Abunawas tadi, paku besar itu tetap juga ditancapkan di sana dan kebisingan semakin
meningkat dari hari ke hari.
2
Lalu, yang cukup mengangetkan adalah isyu yang berkembang di tengah
masyarakat, bahwa suara azan dari masjid terlalu keras sehingga menganggu
pendengaran sang raja dan para abdinya. Masjid itu akan dibeli dan akan dipindahkan ke
tempat yang lebih tenang. Sedangkan di tapak bangunan itu akan didirikan sebuah
kompleks pertokoan lagi seperti yang sudah dibangun pada terminal angkot di Pasar Goat
Hoat atau di bekas terminal Lintas Andalas yang kini telah menjadi Plasa Andalas.
Kini masyarakat bertambah gelisah, konon, Pemko akan mengizinkan lagi busbus
antar propinsi memasuki kota dan salah satu titiknya mungkin di sekitar Masjid
Taqwa pula. Mudah-mudahan ini hanya isyu dari para jamaah yang sudah sangat kecewa
terhadap lambannya usaha Pemko memberikan ketenangan bagi mereka yang tengah
beribadah di masjid itu.
Jika akan tetap begini juga keadaannya, sudah waktunya pengurus Masjid Taqwa
bersiap-siap memindahkan masjid yang dicintai masyarakat ini ke tempat yang lebih
aman, karena sampai sekarang si Abunawas kota Padang ini belum juga mau mencabut
paku besar tempat menggantungkan benda-benda busuknya itu.***
Oleh:
Wisran Hadi
Raja yang satu itu memang aneh. Baginda selalu ingin menambah koleksi
bangunan-bangunan megah di sekitar istananya. Akan tetapi sampai sekarang, di depan
istana, masih saja berdiri sebuah bangunan yang selalu ramai dikunjungi orang untuk
beribadah. Oleh karena sang raja tidak mau dituduh sebagai perampok bangunan milik
masyarakatnya, maka tugas untuk mencaplok bangunan itu diserahkan kepada
Abunawas.
Abunawas dengan beribu akal bulusnya menancapkan sebuah paku besar di
dinding luar bangunan. Mula-mula masyarakat menganggap hal itu sebagai kegilaan
Abunawas saja. Namun dari hari ke hari Abunawas terus menggantungkan segala yang
busuk-busuk pada paku besar itu. Orang-orang yang beribadah dalam bangunan tua
kelabakan karena diserang aroma busuk. Ibadat mereka menjadi tidak khusyuk, namun
orang-orang tidak berani membuangnya karena paku besar milik Abunawas itu adalah
atas persetujuan sang raja.
Orang-orang akhirnya tidak mau mengunjungi bangunan itu lagi, tidak mau lagi
beribadat di sana. Berkali-kali orang mengadukan hal itu kepada sang raja, dan sang raja
dengan sopannya mengatakan semua itu adalah ulah Abunawas. Karena tidak tahan oleh
bau busuk, bangunan itu akhirnya dijual saja kepada kerajaan dengan harga yang sangat
murah pula. Maksud sang raja tercapai dan beberapa bulan kemudian bangunan itu
diruntuhkan dan di atasnya didirikan sebuah bangunan mewah yang baru. Bukan lagi
untuk tempat beribadat tetapi untuk tempat mengumbar syahwat.
Masjid Taqwa yang terletak di pusat kota Padang adalah bangunan yang selalu
ramai dikunjungi untuk beribadat. Didirikan oleh masyarakat Kampuang Jao dan
sekitarnya sejak berpuluh tahun lampau. Semakin hari, kompleks sekitar bangunan itu
semakin lama semakin ramai. Namun, sejak beberapa tahun belakangan, banyak orang
mengeluh karena bisingnya klakson angkot karena semua angkot bermuara di depan
masjid. Ditambah lagi kebisingan itu oleh suara hiruk pikuk mereka yang lalu lalang,
susahnya memarkir kendaraan, keamanan dan berbagai kesulitan lainnya.
Berkali-kali pengurus masjid memohon kepada Pemko agar ikut membantu
memberi ketenangan kepada orang-orang yang beribadah di sana. Mungkin Pemko punya
pendapat lain, yang salah itu adalah, kenapa masjid didirikan di pusat kota. Risikonya
tentulah harus menerima kebisingan kota dengan rela. Namun Pemko kemudian
bermurah hati juga dengan meletakkan papan larangan di depan masjid, agar semua
orang ikut membantu ketenangan orang yang menjalankan ibadah. Cuma papan larangan,
tak ada sangsi, tak ada pengawasan.
Berkali-kali surat kabar ini menyuarakan agar Pemko memindahkan tempat
angkot menurunkan dan menaikkan penumpang itu ke tempat lain, agar orang-orang yang
beribadah di masjid itu benar-benar mendapat ketenangan. Tapi, seumpama paku besar
Abunawas tadi, paku besar itu tetap juga ditancapkan di sana dan kebisingan semakin
meningkat dari hari ke hari.
2
Lalu, yang cukup mengangetkan adalah isyu yang berkembang di tengah
masyarakat, bahwa suara azan dari masjid terlalu keras sehingga menganggu
pendengaran sang raja dan para abdinya. Masjid itu akan dibeli dan akan dipindahkan ke
tempat yang lebih tenang. Sedangkan di tapak bangunan itu akan didirikan sebuah
kompleks pertokoan lagi seperti yang sudah dibangun pada terminal angkot di Pasar Goat
Hoat atau di bekas terminal Lintas Andalas yang kini telah menjadi Plasa Andalas.
Kini masyarakat bertambah gelisah, konon, Pemko akan mengizinkan lagi busbus
antar propinsi memasuki kota dan salah satu titiknya mungkin di sekitar Masjid
Taqwa pula. Mudah-mudahan ini hanya isyu dari para jamaah yang sudah sangat kecewa
terhadap lambannya usaha Pemko memberikan ketenangan bagi mereka yang tengah
beribadah di masjid itu.
Jika akan tetap begini juga keadaannya, sudah waktunya pengurus Masjid Taqwa
bersiap-siap memindahkan masjid yang dicintai masyarakat ini ke tempat yang lebih
aman, karena sampai sekarang si Abunawas kota Padang ini belum juga mau mencabut
paku besar tempat menggantungkan benda-benda busuknya itu.***
Minggu, 03 Mei 2009
Curito Cindua Mato.
Cindua Mato…
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Cina dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.
Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kawin untuk Puti Bungsu.
Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.
Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkawinan yang hendak dilangsungkan.
Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkawinan yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.
Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.
Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.
Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.
Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkawinan antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkawinan kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.
Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.
Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.
Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.
Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.
Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.
Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkawinannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam.
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Cina dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.
Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kawin untuk Puti Bungsu.
Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.
Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkawinan yang hendak dilangsungkan.
Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkawinan yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.
Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.
Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.
Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.
Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkawinan antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkawinan kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.
Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.
Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.
Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.
Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.
Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.
Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkawinannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam.
Langganan:
Postingan (Atom)
